Minggu, 12 April 2020

Cerpen

Work From Home


WFH, istilah yang akhir akhir ini sering kita dengar seiring menjalarnya wabah pandemi corona, kalau orang lain menyebutnya wfh atau work from home atau jika dibahasa indonesiakan bekerja dari rumah mungkin istilah itu kurang cocok untuk saya. Jika lebih dispesifikan lagi, saya lebih suka dengan istilah work from bedroom atau work on the bed. Hussss jangan jorok dulu ya berpikirnya. Karena memang hampir semua yang aku kerjakan ku lakukan di dalam kamar di atas tempat tidurku. Padahal kamarku tidak terlalu besar, hanya sekitar 2 x 3 meter. Dalamnya pun sangat usang, namun inilah tempat ternyamanku. Jika ada orang masuk ke dalam kamar, yang pasti mereka lihat adalah sebuah netbook kecil yg sudah usang, maklum saja usianya sudah 6 tahun. Keyboardnya pun sudah tak lagi berfungsi sehingga harus dipasang keyboard eksternal. Namun, inilah keyboard pertamaku. Aku membelinya dari uang beasiswa yang ku peroleh semasa kuliah. Almarumah ibu juga turut andil agar ku bisa membeli barang ini. Aku pun perlu kesabaran ekstra tinggi dalam menggunakan netbook ini sekarang. Namun tak apa, ibarat barang yang diseting 5 tahun harus rusak. Netbook ini tetap menemaniku meski usianya sudah tak muda lagi. 
Di samping tempatku menaruh netbook ada sebuah kalender yang setiap hari ku pandangi. Ia rasanya sudah tak terhitung lagi aku dalam memandanginya. Mungkin ini adalah ungkapan bahwa aku sudah ingin sekali kembali ke sekolah. Menghitung hari, memperkirakan lewat kalender itulah hal yang aku lakukan.
Selimut pun bergerak mondar-mandir tidak karuan karena tergeser oleh badanku yang sering bergerak tidak karuan. Bekerja dari rumah memang fleksibel, namun ternyata berjumpa dengan murid muridku lebih aku sukai. Mereka bisa ku ajak berinteraksi setiap waktu. Di kamarku, sebaliknya semuanya hanya termenung memandangiku. 

Sabtu, 11 April 2020

Seminar Online


Ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti seminar online, awalnya niatku mengikuti seminar ini hanyalah ingin mendapatkan sertifikat dan mengisi waktu luang di tengah-tengah work from home atau WFH. Namun seiring berjalannya seminar, aku mendapatkan hal yang lebih dari yang aku bayangkan. Aku adalah seorang yang sangat jarang menulis. Kegiatan menulis yang aku lakukan hanyalah tak jauh-jauh dari tugas seorang guru seperti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, membuat jurnal harian.

Pada dasarnya keinginan untuk menulis ada, namun banyak alasan yang akan ku sampaikan atau lebih tepat untuk menyimpulkannya yaitu malas. Benar apa kata Om Jay menulis memang harus dipaksakan. Menulislah setiap hari, lalu lihatlah apa yang akan terjadi. Oh ya Om Jay adalah founder belajar menulis online dengan segudang pengalaman dan penghargaan di dunia tulis menulis. Selanjutnya, aku berharap pada diriku sendiri agar mempunyai semanagt menulis dan meluangkan waktu setiap harinya untuk menulis.

Minggu, 05 April 2020

Cerpen Tiga Paragraf


Ibu

          Dengan langkah lemah, orang tua itu tetap berjalan menuju rumah. Sudah terbayang wajah anak-anaknya yang sedang menunggu kepulangannya. Terbayang juga wajah anak-anaknya yang pasti sudah lapar karena belum makan siang. Maklum anaknya masih kecil-kecil, jadi belum bisa memasak. Tapi ibu itu merasa agak lega karena sebelum berangkat berdagang tadi pagi, ia sempat meninggalkan beberapa rupiah. Ia berpesan agar uang itu digunakan untuk membeli sarapan. Dan sisanya yang tak seberapa digunakan untuk uang saku sekolah.
                “ Ibu pulang”, teriak si bungsu. Rupanya si bungsulah yang sangat menantikan kepulangan sang ibu. Langsung dibongkarlah tas keranjang sang ibu yang biasanya berisi berbagai jajanan pasar. Namun, siang ini di dalam tas keranjang itu hanya ada lima potong roti. Si bungsu pun bertanya kepada ibunya kenapa hanya membeli roti untuknya. Padahal roti itu pun harus ia bagi dengan dua saudara laki-lakinya yang lain. Sang ibu hanya marah menjawab pertanyaan dari si bungsu.
                Sang ibu pun segera mengambil beras di dapur untuk di masak. Ia kemudian keluar dari rumah. Ternyata ibu habis saja pergi ke warung untuk berhutang lauk pauk. Sambil menunggu nasi matang, ibu mendekati ketiga anaknya dan bercerita tentang apa yang menimpa dirinya. Rupanya sang ibu baru saja kecopetan. Seluruh hasil dagangannya hari ini hilang begitu saja. Ia bercerita sambil menangis dihadapan ketiga anaknya. Begitulah pilu kehidupan seorang wanita yang sudah 8 tahun ini ditinggal suami untuk selama-lamanya.


Jumat, 03 April 2020

Cerpen Tiga Paragraf

Bus


Kuliah sudah selesai saatnya aku bergegas pulang. Aku memang pulang pergi kuliah menggunakan alat transportasi umum yaitu bus. Tidak seperti temanku yang lain, yang lebih memilih utnuk kos, aku lebih memilih laju. Laju adalah istilah pulang pergi kuliah dari rumah. Banyak suka duka menggunakan alat transportasi bus. Apalagi bus yang aku tumpangi adalah bus antarkota bahkan antar provinsi. Suasananya penuh sesak tidak karuan. Ditambah suara musik dangdut yang begitu keras yang keluar dari speaker bus.
“Monggoh”, kata seorang ibu yang menawariku tempat duduk tepat di sebelahnya. Aku langsung saja menerima tawaran ibu itu. Karena sebenarnya aku sudah menunggu bus lama sekali. Udara di siang ini pun terasa lebih panas dari biasanya. Bus yang ku tumpangi siang ini pun bukan bus yang biasa. Namun daripada lama menunggu akhirnya ku naiki saja. Ku duduk persis di samping kaca jendela. Kaca jendela yang terbuka membuat angin masuk begitu segarnya. Angin itulah yang membuatku ingin memejamkan mata.
Aku biasanya lebih senang duduk di tempat paling depan. Entah mengapa hari ini aku memilih duduk di tengah.  Kepalaku tertunduk menahan kantuk. Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah dan seluruh penumpang menjerit. Ternyata bus yang aku tumpangi menabrak truk. Andaikan aku  tadi duduk di depan andaikan aku tidak tertunduk mengantuk, tentu saja pecahan kaca itu akan melukaiku, itulah yang terbesit dalam hati selepas kejadian itu. Allah telah memberi perlindungannya kepada ku.                                  

Kamis, 02 April 2020

Cerpen Tiga Paragraf


Pulang

Kuliah sudah selesai jam 11 siang tadi. Dan itu kuliah terakhir di hari ini. Namun, rasanya enggan untuk beranjak pulang. Daripada pulang lebih baik ngobrol saman teman di kampus atau mengerjakan tugas kuliah mumpung ada wifi gratis di kampus, itulah yang aku katakan dalam hati setiap kuliah berakhir di waktu yang belum petang.

“Betah amat di kampus”, kata Amel teman kampusku. Sebenarnya bukan betah, hanya saja kampus menjadi pelarianku. Kebanyakan teman-teman memang memilih langsung pulang ke kos atau ke rumah saat kuliah sudah selesai. Namun berbeda denganku, hasrat pulang ke rumah lebih cepat rasanya sudah tidak ada. Ini baru kurasakan baru beberapa hari ini.

Orang-orang tak pernah tahu tentang apa alasanku betah di kampus. Mereka hanya tahu aku anak rajin yang tidak langsung pulang karena langsung mengerjakan tugas dari dosen. Andaikan mereka tahu aku tak ingin pulang ke rumah sebelum petang karena aku tak ingin bayang-bayang ibu hadir setiap aku masuk ke rumah, yang membuatku menangis seolah tak ikhlas atas kepergiannya. Jika aku pulang petang, aku langsung bergegas mandi, makan dan kemudian tidur karena lelahku seharian di kampus. Jika  tidak begitu, aku akan selalu menangis mengingat semua kenangan bersama ibu. Karena ditinggalkannya adalah hal terberat dalam hidupku. Duniaku seakan runtuh. Namun aku percaya seiring berjalannya waktu Allah akan menghapus rasa sedihku.

Rabu, 01 April 2020

Cerpen tiga paragraf


             Tamu

            Aku langsung masuk ke dalam kamar, aku bingung apakah keputusan yang ku ambil tepat atau tidak. Karena banyak sekali hal yang ku pertimbangkan. Semua ini sangat mengejutkan. Tanpa bermaksud menyakiti hati siapa pun. Aku harus yakin inilah keputusan terbaik.

            “Jadi bagaimana mba novi, iya atau tidak ?”, tanya ibu itu kepadaku. Aku pun sangat hati-hati dalam memilih kata untuk menjawab pertanyaan tersebut. Semoga jawaban yang ku berikan tidak menyakiti hatinya. Pertanyaan yang tidak ku sangka akan datang secepat ini. Disaat fokusku belum ke arah itu.

          Tak henti-hentinya aku meyakinkan diriku sendiri bahwa keputusan yang ku ambil sangat tepat. Ku tahu usiaku sudah pantas untuk mengarunginya. Mangarungi samudra mahligai suci. Namun, masih ada cita-cita yang ingin ku jadikan kenyataan. Aku percaya jodoh tidak akan kemana. Yang ditakdirkan untukku tidak akan melewatkanku.

Senin, 30 Maret 2020

Cerpen 3 Paragraf (Pentigraf)


Berikut adalah resume peremuan ke 2 dari seminar online yang saya ikuti
Narasumber: Rosiana Febriyanti 
Pentigraf adalah akromin dari cerpen tiga paragraf, namun bukan sembarang tiga paragraf yang datar melainkan dibumbui dengan akhir yang menarik perhatian pembaca. Akhir kisahnya bisa membahagiakan atau bahkan menyedihkan. Pentigraf termasuk fiksi mini yang dibatasi hanya tiga paragraf.
ciri-cirinya:
!. panjang tulisan hanya 3 paragraf
2. Satu paragraf hanya mempunyai satu gagasan pokok
3. Secara teknis penulisan di komputer, satu bparagraf satu kali ENTER
4. Sebagai cerpen, pentigraf memiliki ciri-ciri narasi yaitu
a. Alur ( ada konflik)
b. Tokoh ( yang menggerakan alur)
c. Topik ( persoalan yang dialami tokoh)
d. Latar ( waktu, tempat, dan suasana)
Tema dalam membuat pentigraf bisa berasal dari mana saja, bisa berasal dari pengalaman pribadi atau curahan hati penulis. Pentigraf boleh diawali dengan memunculkan konflik atau solusi atau pengenalan karakter. Akhir ceritanya pun beranea macam ada yang menyedihkan, menyenangkan atau pun ada yang memberi twist atau memberi kejutan.
Dialog dalam pentigraf diminimalkan  atau diubah dalam bentuk narasi atau deskripsi, Namun dialog tetap dibutuhkan untuk bumbu agar tidak terasa hambar. Paragraf dalam pentigraf jangan terlalu panjang dan jangan terlalu banyak percakapan. Dalam satu paragraf hanya ada satu kalimt langsung. Panjang pentigraf sekitar 210 kata.  kalimat langsung pada paragraf kedua cukup satu saja. Paragraf kedua berisi alur, di dalamnya konflik yang dialami tokoh. paragraf ketiga berupa resolusi atau kesimpulan yang menarik dan berkesan sehingga mudah diingat oleh peembaca. Ada kejutan di akhir cerita inilah yang menjadi bumbu rahasia. 

Berikut contoh cepen pentigraf yang saya buat dan telah saya revisi atas saran narasumber

Lagi nunggu siapa pak


Suatu hari aku dan fika pergi ke dinas tenaga kerja untuk mengurus sesuatu. Kami pergi ke sana dengan berboncengan motor. Sesampainya di sana kami langsung memarkirkan motor dan menuju ke area kantor.
Saya bertanya kepada security di kantor tersebut, "pak kalau mau mengurus ini bagaimana ya?". Beliau menjelaskan dengan ramahnya sampai tak sadar hujan turun dengan derasnya. Kami pun menunggu hingga hujan reda bahkan sampai tempat itu sepi yang tersisa hanya kami bertiga. 
Karena lapar akhirnya aku memutuskan untuk pulang hujan juga sudah mulai mereda. Sesampainya di parkiran motor, aku kebingungan ada seorang laki-laki berdiri di dekat motorku seperti sedang menunggu seseorang. Kami pun takut lantaran area parkir sudah sangat sepi. Sambil memakai helm aku bertanya kepada beliau. Beliau tertawa dan menjawab saya tukang parkir mbak, nungguin motor ini. Saya dan fika tertawa dan malu karena ketika parkir tadi aku tidak terlalu memperhatikan wajah tukang parkirnya.


Cerpen

Work From Home WFH, istilah yang akhir akhir ini sering kita dengar seiring menjalarnya wabah pandemi corona, kalau orang lain menyebu...