WFH, istilah yang akhir akhir ini sering kita dengar seiring menjalarnya wabah pandemi corona, kalau orang lain menyebutnya wfh atau work from home atau jika dibahasa indonesiakan bekerja dari rumah mungkin istilah itu kurang cocok untuk saya. Jika lebih dispesifikan lagi, saya lebih suka dengan istilah work from bedroom atau work on the bed. Hussss jangan jorok dulu ya berpikirnya. Karena memang hampir semua yang aku kerjakan ku lakukan di dalam kamar di atas tempat tidurku. Padahal kamarku tidak terlalu besar, hanya sekitar 2 x 3 meter. Dalamnya pun sangat usang, namun inilah tempat ternyamanku. Jika ada orang masuk ke dalam kamar, yang pasti mereka lihat adalah sebuah netbook kecil yg sudah usang, maklum saja usianya sudah 6 tahun. Keyboardnya pun sudah tak lagi berfungsi sehingga harus dipasang keyboard eksternal. Namun, inilah keyboard pertamaku. Aku membelinya dari uang beasiswa yang ku peroleh semasa kuliah. Almarumah ibu juga turut andil agar ku bisa membeli barang ini. Aku pun perlu kesabaran ekstra tinggi dalam menggunakan netbook ini sekarang. Namun tak apa, ibarat barang yang diseting 5 tahun harus rusak. Netbook ini tetap menemaniku meski usianya sudah tak muda lagi.
Di samping tempatku menaruh netbook ada sebuah kalender yang setiap hari ku pandangi. Ia rasanya sudah tak terhitung lagi aku dalam memandanginya. Mungkin ini adalah ungkapan bahwa aku sudah ingin sekali kembali ke sekolah. Menghitung hari, memperkirakan lewat kalender itulah hal yang aku lakukan.
Selimut pun bergerak mondar-mandir tidak karuan karena tergeser oleh badanku yang sering bergerak tidak karuan. Bekerja dari rumah memang fleksibel, namun ternyata berjumpa dengan murid muridku lebih aku sukai. Mereka bisa ku ajak berinteraksi setiap waktu. Di kamarku, sebaliknya semuanya hanya termenung memandangiku.

